Hubungi Kami

Perspektif Normatif Konsep dan Karakter Pendidikan Islam

Islam adalah sebuah sistem hidup yang melahirkan berbagai aturan untuk kebaikan manusia. Hal ini tidak mungkin terbantahkan, sebab konsepsi Islam berasal dari Allah sang pencipta manusia itu sendiri. Allah lebih tahu tentang hakekat manusia melebihi manusia itu sendiri. Tidak ada satupun ayat yang mengatakan bahwa Allah Swt berbuat dzalim terhadap manusia, kecuali manusia itu sendiri yang mendzalimi dirinya sendiri. Representasi konsepsi sistem hidup ini tercantum dalam Al Qur’an sebagai pedoman normatif yang kemudian dikejawantahkan oleh utusanNya Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari di semua ranah kehidupan.

          Ketika Rasulullah Saw diutus itulah beliau kemudian memberikan pembelajaran kepada manusia melalui dakwah yang penuh kasih sayang dan kelembutan. Proses pembelajaran ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang benar kepada manusia saat itu agar mengubah keyakinan jahiliyah yang selama ini dianut. Dengan berbagai uslub (cara) Rasulullah Saw secara terus menerus memberikan pencerahan ajaran Islam kepada umat yang tersesat saat itu. Kadang dengan menyeru, dialog, taklim, debat, keteladanan perilaku dan diskusi.[1]  Proses internalisasi pemahaman ajaran Islam yang dilakukan oleh Rasulullah inilah yang kemudian menjadi cikal bakal proses pendidikan Islam. Tujuan paling prinsip dari proses pendidikan yang dilakukan Rasulullah adalah untuk mengarahkan  manusia kepada jalan Islam hingga mereka keluar dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam.

          Pola pendidikan yang dilakukan Rasulullah inilah yang kelak menjadi faktor utama lahirnya para generasi terbaik sepanjang sejarah peradaban dunia. Abu Bakar Shidiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib adalah sebagian kecil sahabat dan anak didik  Rasulullah yang telah meletakkan pondasi bagi kegemilangan peradaban Islam di masa berikutnya.  Sistem dan peradaban Islam sebagai pondasi kejayaan Islam mendominasi selama berabad-abad. Kejayaan Islam saat itu telah menjadi cahaya yang memancarkan energi positif bagi kebaikan dunia dengan berbagai karya keilmuwan para ulama cendikiawan atau ilmuwan muslim[2] yang kemudian menjadi rujukan utama bagi kemajuan iptek di dunia Barat. Ini adalah fakta sejarah yang didasarkan oleh pengakuan para ilmuwan Barat sendiri bahwa Islam adalah penyumbang utama bagi kemajuan peradaban Barat.[3]

          Pendidikan Islam pada hakekatnya bertujuan untuk melahirkan generasi manusia yang mampu mengelola, memakmurkan, menguasai dan menerapkan hukum dan aturan Allah di muka bumi. Itulah juga visi para nabi dan Rasul, bukan untuk melahirkan manusia-manusia perusak bumi dan alam. Itulah yang dimaksud Allah dalam ayatNya bahwa Allah akan menciptakan para Khalifah dari kalangan manusia yang kelak dipertanyakan oleh para malaikat.[4] Karenanya Allah akan mengangkat dari hamba-hambanya yang dalam hidupnya menuntut ilmu beberapa derajat.[5]

          Artinya melalui pendidikan Islam  inilah manusia akan mampu memiliki imu pengetahuan yang akan digunakan untuk mengelola bumi bagi kebaikan seluruh manusia sesuai hukum yang dikehendaki Allah, inilah hakekat predikat khalifah. Bagaimana akan bisa mengelola dengan baik jika tidak memiliki kekuasaan di muka bumi. Padahal Allah yang telah menjanjikan orang-orang beriman akan menjadi penguasa di muka bumi[6] untuk menebarkan rahmat bagi alam (rahmatan lil’alamin).[7] Untuk itulah para ilmuwan  muslim terdahulu  yang telah beriman dan beramal shaleh juga membekali dirinya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga mampu menguasai dan mengelola bumi sekaligus menorehkan dengan tinta emas peradaban dunia yang penuh kemuliaan dan kebaikan.

          Pendidikan Islam mengajarkan anak didik untuk senantiasa berfikir tentang penciptaan alam semesta sebagai salah satu cara untuk memperkuat iman kepada Allah serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengelola bumi. Dengan kata lain pendidikan Islam akan melahirkan generasi yang senantiasa berfikir dan berzikir yang dalam istilah Al Qur’an disebut dengan istilah generasi Ulil Albab.[8] Generasi Ulil Albab sebagai hasil dari proses pendidikan Islam memiliki beberapa ciri, diantaranya yang disampaikan oleh Prof. Didin Hafidhuddin[9] dan Naquib al Atas.[10]

          Dengan mengacu pada Al Qur’an dan sejarah kejayaan peradaban Islam,  maka dapat disimpulkan bahwa karakter pendidikan Islam sejatinya bersifat integralistik yakni memadukan antara keimanan dan keilmuwan sekaligus. Karakter pendidikan Islam tidaklah bersifat dikotomis sekuleristik seperti yang terjadi di dunia Barat sekarang ini. Pendidikan Islam juga berkarakter holistik yakni meliputi semua bidang kehidupan seperti ilmu pengetahuan, politik, sosial, budaya, ekonomi, seni, psikologi, bahkan praktek kenegaraan sekalipun. Dengan demikian  pendidikan Islam juga bersifat sistemik yakni mengajarkan Islam sebagai sebuah sistem kesatuan yang utuh bukan parsial. Pendidikan Islam juga berkarakter universal yakni hasil dari pendidikan Islam adalah para generasi yang akan menjadi agen-agen penebar kebaikan bagi dunia bukan perusak dunia bukan hanya untuk kelompok tertentu atau primordialistik. Karenanya pendidikan Islam menurut menurut Prof. Dr. H Ramayulis juga memiliki prinsip-prinsip tersendiri yang khas yang membedakan dengan sistem pendidikan lain[11].   Dengan Islam, maka peradaban dunia akan menjadi peradaban mulia, meminjam istilah Iqbal kebudayaan yang menemukan titik kesatuan dunia dalam prinsip tauhid.[12]       

Catatan Kaki:

[1] Ada banyak ayat dan hadist yang berkaitan dengan dakwah sebagai proses internalisasi pemahaman ajaran Islam kepada manusia. Diantaranya adalah : (1)QS. An Nahl [16] : 125, “ Serulah manusia ke jalan Rabbmu (Allah) dengan jalan hikmah (hujjah) dan nasehat yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. (2) QS. At Taubah [9] : 71, “ Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagaian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah dan sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha bijaksana”. (3) QS. Fushilat : 33, “ Dan siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang-orang yang menyeru kepada Allah (dakwah), mengerjakan amal shaleh dan berkata sesungguhnya aku ini termasuk orang-orang yang muslim.  Terkait rujukan hadist Rasulullah pernah bersabda,” Demi zat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh kalian memiliki dua pilhan, yaitu) benar-benar memerintah berbuat ma’ruf (amar ma’ruf) dan melarang berbuat mungkar (nahi mungkar), ataukah Allah akan mendatangkan siksa dari sisinya yang akan menimpa kalian. Kemudian setelah itu kalian berdoa, maka doa itu tidak akan dikabulkan” (HR. Tirmidzi)  

[2] Pada masa kejayaan Islam inilah, lahir para ilmuwan muslim yang telah menjadi inspirasi dan sumber rujukan para ilmuwan barat kini. Di bidang matematika kita mengenal Al Khawarizmi, Abu Kamil Suja', Al Khazin, Abu Al Banna, Abu Mansur Al Bagdadi, Al Khuyandi, Hajjaj bin Yusuf dan Al Kasaladi. Di bidang Fisika kita mengenal Ibnu Al Haytsam, Quthb Al Din Al Syirazi, Al Farisi dan Prof. Dr Abdus Salam. Dalam bidang kimia ada Jabir bin Hayyan, Izzudin Al Jaldaki, dan Abul Qosim Al Majriti. Dalam bidang biologi ada Ad Damiri, Al Jahiz, Ibnu Wafid, Abu Khayr, dan Rasyidudin Al Syuwari. Dalam bidang kedokteran ada Ibn Sina, Zakariyya Ar Razi, Ibnu Masawayh, Ibnu Jazla, Al Halabi, Ibnu Hubal dan masih banyak lagi. Dalam bidang astronomi kita mengenal Al Farghani, Al Battani, Ibnu Rusta Ibnu Irak, Abdul rahman As Sufi, Al Biruni dan tokoh ilmuwan muslim lainnya. Dalam bidang geografi kita mengenal Ibnu Majid, Al Idrisi, Abu Fida', Al Balkhi, dan Yaqut al Hamawi. Dan dalam bidang sejarah kita mengenal Ibnu Khaldun, Ibnu Bathutah, Al Mas'udi, At Thabari, Al Maqrisi dan Ibnu Jubair. (lihat M Ishom El Saha dan Saeful Hadi dalam Profil Ilmuwan Muslim Perintis Ilmu Pengetahuan Modern. 2004. Fauzan Inti Kreasi). 

[3] Pengakuan sumbangan Islam terhadap kemajuan peradaban Barat itu dilontarkan oleh beberapa ahli kebudayaan Barat, anatar lain : (1) George Sarton, seorang ahli sejarah ilmu pengetahuan dari Universitas Harvard dalam bukunya Introduction on The History of  Science bahwa buku –buku berbahasa  Arab menjadi rujkan utama kemajuan manusia para abad 8 hingga 11. (2) Robert Stephen Briffault menulis dalam bukunya Making of Humanity mengakui bahwa kemajuan ilmu di Eropa adalah berkat jasa bangsa Arab. (3) Rom Landau menulis dalam bukunya The Arab Heritage of Western Civilization mengakui bahwa para ahli ilmu pasti dan perbintangan Barat seperti Keppler, Copernicus, Galileo dan Newton tak akan pernah mampu jika tidak dirintis oleh para ilmuwan muslim sebelumnya. (4) Carra De Vaux mengatakan bahwa umat Islam telah mengajarkan Barat ilmu hitung yang belum pernah diketahui oleh para ilmuwan Yunani sekalipun. (5) Max Mayerhof mengatakan bahwa kedokteran Islam dan ilmu pengetahuan yang lain telah menyinari Helenisme hingga Eropa mengalami Renaissance “ Oleh karena itu Islam harus tetap bersama kita” ungkap Max. (6) John William Droper, guru besar Universitas New York dalam bukunya History of The Conflict Between Religion and Science (1876) mengatakan bahwa jasa besar umat Islam dalam pengembangan ilmu pengetahuan adalah karena mereka melakukan pengamatan dan percobaan  ala Iskandariyah bukan metode perenungan ala Athena. (lihat M Masyhur Amin, Sejarah Peradaban Islam. Hal. 295). Bahkan tak ketinggalan presiden Amerika kini Barrack Husein Obama mengatakan bahwa peradaban berhutang kepada Islam. Selengkapnya pengakuan jujur Obama ini di rilis di http://jakarta.usembassy.gov. Obama  mengatakan, " Peradaban berhutang kepada Islam. Islamlah—di tempat-tempat seperti universitas Al Azhar—yang mengusung lentera ilmu selama berabad-adab, dan membuka jalan bagi era kebangkitan kembali dan era pencerahan di Eropa. Inovasi dalam masyarakat muslimlah yang mengembangkan urutan aljabar, kompas, magnet dan alat navigasi, keahlian dalam menggunakan pena dan percetakan serta pemahaman mengenai penularan penyakit serta pengobatnya. Budaya Islam telah memberi kita gerbang-gerbang yang megah dan puncak-puncak menara yang menjujung tinggi, puisi-puisi yang tak lekang oleh waktu dan musik yang dihargai, kaligrafi yang anggun dan tempat-tempat untuk melakukan kontemplasi secara damai. Sepanjang sejarah, Islam telah menunjukkan melalui kata-kata dan perbuatan bahwa toleransi beragama dan persamaan ras adalah hal-hal yang mungkin". (6/6/2009)          

[4] Bunyi ayat itu selengkapnya tertera pada surat Al baqarah ayat 30, “ dan ingatlah ketika Tuhanmu berkata  kepada para malaikat bahwa sesungguhnya Aku akan menciptakan Khalifah di bumi. Maka berkata para malaikat akankah Engkau menciptakan manusia yang akan berbuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah. Allah menjawab Aku lebih tahu hal-hal yang kalian tidak ketahui”.  

[5]Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman dan yang mencari ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS Al Mujadalah : 11)

[6]Allah telah menjanjikan kepada orang-orang diantara kamu yang beriman dan yang mengejakan kebaikan, bahwa Dia sesungguhnya akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka setelah dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahhKu  dan tidak mempersekutukanKu dengan sesuatu apapun. Tetapi barang siapa tetap kafir setelah janji itu, maka mereka itulah orang-orang fasik.”. (QS. Annur : 55)

[7]Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi alam semesta”. (QS al Anbiya : 107). 

[8] Dalam Tafsir Ibnu Katsir diceritakan bahwa ketika turun ayat tentang Ulil Albab (QS AlI Imran : 190 - 191) yang artinya," sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah  bagi orang-orang yang berkal  yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambi berdiri, duduk dan dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata,' ya Tuhan, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka", maka Rasulullah menangis hingga air matanya membasahi janggut dan menetes ke bumi. Lantas sahabat Bilal bertanya, wahai Rasulullah kenapa Engkau menangis, bukankah Engkau adalah orang yang telah diampuni dosanya oleh Allah dari dosa-dosa terdahulu hingga yang akan datang". Rasulullah menjawab," Wahai Bilal, bukankah aku belum menjadi hamba yang  bersyukur ?.  aku menangis karena baru saja mendapatkan wahyu tentang Ulil Albab (QS. Ali Imran : 190 – 191),  maka celakalah bagi orang-orang yang membaca ayat ini lalu tidak bertafakur dan merenungkannya".   

[9]  KH Didin Hafidhuddin dalam bukunya Agar Layar Tetap Terkembang hal. 78 memberikan kualifikasi bahwa generasi Ulil Albab adalah orang yang senantiasa sadar diri dan sadar perannya. Sehingga ketika beraktifitas apapun dan dimanapun selalu mengkaitkan dirinya dengan aturan dan hukum Allah.

[10] Sedangkan menurut pendapat Naquib al Atas setidaknya ada tujuh karakter Ulil Albab, diantaranya adalah : 1). Senantiasa melakukan zikrullah dalam arti luas dalam segala gerak-gerik dan aktivitasnya dan dibarengi dengan kegiatan tafakkur (penelaahan, penelitian dan nazhar) terhadap alam ciptaan Allah. 2). Bersungguh-sungguh menuntut ilmu sehingga mencapai tingkat rashih (mendalam) sebagaimana dinyatakan Al Qur'an dalam surat QS Ali Imran : 7. 3). Mampu memisahkan yang buruk (khabits) dan yang baik (thayib) kemudian dia memilih, berpihak, dan mempertahankan yang baik itu meskipun sendirian. 4). Kritis dalam mendengarkan pembicaraan, pandai menimbang-nimbang ucapan, teori, proposisi ataupun dalil dan argumentasi yang dikemukakan orang lain dan senantiasa memilih alternatif yang terbaik (ahsanah) sebagaimana dinyatakan dalam QS Az Zumar : 18. 5). Bersedia mendakwahkan ilmu yang dimilikinya kepada masyarakat, senantiasa berusaha memperbaiki masyarakat dan lingkungannya, memiliki kesadaran yang tinggi kegiatan amar ma'ruf nahi mungkar  sesuai dengan QS Ibrahim : 52. 6). Tidak takut kepada siapapun kecuali hanya kepada Allah sesuai dengan QS At Taubah : 18. 7). Senantiasa rukuk dan sujud pada sebagian malamnya, merintih pada Allah dan semata-mata hanya mengharapkan rahmat dan ridhaNya, sesuai dengan QS Az Zumar : 9.

[11] Menurutnya dalam buku Ilmu Pendidikan Islam, pendidikan Islam setidaknya memiliki lima prinsip utama : (1) prinsip pendidikan Islam merupakan implikasi dari karakteristik (cirri-ciri) manusia menurut Islam (fitrah, kesatuan ruh dan jasad dan kebebasan berkehendak) (2). Prinsip pendidikan Islam adalah integral dan terpadu yakni tidak ada pemisahan antara saint dan agama (iptek dan imtaq) artinya tidak bersifat dikotomistik. (3) prinsip pendidikan Islam adalah pendidikan yang seimbang (duniawi ukhrowi, jasmani rohani, dan individu masyarakat). (4). Prinsip pendidikan Islam adalah universal yakni menyentuh keseluruhan aspek manusia. Dan (5) prinsip pendidikan Islam adalah dinamis, tidak statis. 

[12] Lebih lengkap DR. Muhammad Iqbal mengatakan bahwa Islam telah memancar dari kesadaran satu bangsa yang begitu bersahaja, tidak bersentuhan dengan kebudayaan lama yang manapun juga dan menduduki suatu daerah geografis tempat tiga benua bertemu bersama-sama. Kebudayaan (baca : peradaban)  baru itu telah menemukan suatu dasar kesatuan dunia dalam prinsip Tauhid. Islam sebagai suatu lembaga merupakan suatu cara praktis yang akan membuat prinsip itu sebagai faktor yang hidup dalam pikiran dan perasaan manusia. Islam menetapkan kesetiaan itu kepada Tuhan, bukan kepada mahkota. Dan selama Tuhan itu yang menjadi dasar rohaniah terakhir segala hidup, maka hakekat kesetiaan kepada Tuhan merupakan kesetiaan terhadap cita-citanya sendiri. Penghambaan kepada Tuhan bersifat kekal dalam kondisi dan perubahan apapun. Karenanya Islam mestinya menjadi dasar dan prinsip-prinsip yang abadi untuk mengatur kehidupan secara kolektif, sebab keabadian itu memberikan tempat yang aman bagi kita dalam suatu dunia dengan kondisi yang terus berubah-ubah secara terus menerus. Namun Iqbal juga sadar akan kemunduran umat Islam yang terjadi hari ini yang menurutnya disebabkan oleh tiga : (1) Gerakan rasionalis yang lahir dalam pangkuan Islam dalam masa permulaan Abbasiyah, serta pertentangan-pertentangan pahit yang timbul karenanya, bagi kita semua bukanlah  asing lagi. (2) timbulnya kebiasaan sufi yang berangsur-angsur berkembang dibawah pengaruh pikiran yang bukan Islam, dari segi renungan semata, boleh dikatakan bertanggungjawab atas sikap ini. Dari segi agama semata, tasawuf merupakan pemberontakan terhadap bermacam-macam dalih ahli-ahli hokum kita dahulu kala. (3) puncak dari semua itu adalah jatuhnya Bagdad sebagai pusat segala kegiatan intelek muslim, yaitu pada pertengahan abad ketigabelas. Ini adalah suatu pukulan berat, dan semua ahli-ahli sejarah yang hidup pada zaman penyerbuan Tartar melukiskan bagdad itu dengan setengah menekankan perasaan pesimismenya tentang nasib umat Islam di kemudian hari.

( lihat Dr Muhammad Iqbal. Membangun Kembali Pemikiran Agama dalam Islam. Hal. 159-161)