Hubungi Kami

Menyimak Hubungan Gaya Hidup dan Perilaku Korup

Bismillahirrahmanirrahim. Dewasa ini realitas gaya hidup atau life style di tengah masyarakat semakin meningkat tidak terkendali. Perilaku belanja tidak hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan dalam batas cukup, namun sudah mengarah pada perilaku bermewah-mewanan (at takatsur). Pakaian, sejak dari kaos kaki, sepatu, baju, celana dalam, dan seterusnya  tidak puas dengan harga puluhan ribu melainkan dengan jutaan bahkan puluhan juta rupiah. Belanja kebutuhan dapur saja tidak puas jika hanya di mall kota Jakarta melainkan harus ke luar negeri. Mobil ataupun rumah yang kiranya cukup dengan harga sekira dua, tiga atau lima ratus jutaan, namun harus dibeli dengan milyaran rupiah.

          Mental gaya hidup bermewah-mewahan tersebut tidak hanya terjadi pada masyarakat kelas atas namun juga melanda kelas menengah dan bawah. Bagi kalangan atas mereka telah menumpuk harta dan berpamer ria dengan rumah seharga ratusan milliar. Terhadap masyarakat kelas menengah, mereka rela hidup menderita dengan tagihan hutang rumah dan mobil mahalnya asalkan status sosial tidak tergadaikan. Untuk kelas bawah semisal hutang kredit kendaraan, parabola dan handphone yang terus mengikuti perkembangan merek dan fasilitas. Mereka rela hidup thekor (pailit) asalkan tetap kesohor.

           Sementara itu, kasus perilaku korup yang selanjutnya disebut dengan korupsi juga meningkat tidak terkendali, baik individual ataupun berjamaah. Era reformasi yang diharapkan korupsi dapat diberantas, justru kini semakin menggurita dari hulu hingga hilir. Bahkan perilaku korupsi tersebut semakin berbasis intelektual dan teknologi tinggi sehingga menyulitkan untuk dideteksi. Kini seluruh penjara di negeri ini sudah melebihi ambang kapasitasnya. Jika di era orde baru, korupsi masih malu-malu dilaksanakan transaksi di bawah meja, namun kini terang-terangan di atas meja, bahkan hingga kursi dan mejanyapun ikut hilang.

          Bahkan korupsi kini menjamur di seluruh lapisan masyarakat. Sejak dari pejabat tinggi negara hingga rakyat kecil sudah mengakar budaya korupsi. Mereka berperilaku korup sesuai status, peran, dan lingkungan kehidupanya. Bagi pejabat tingkat legeslatif, politisi dan kementerian negara misalnya, tentu bermain pada tingkat anggaran milyaran hingga trilyunan rupiah. Namun untuk masyarakat dan oknum polisi cukup di jalan aman nan sepi. Bagi petugas pembayaran tol dengan cara mengurangi uang pengembalian. Bagi pedagang pasar cukup mengurangi takaran dan timbangan. Demikian pula jabatan juru parkir, juga melakukan korupsi dengan memotong jumlah setoran, dsb.

Korelasi Positif

          Baik gaya hidup mewah ataupun perilaku korup keduanya sama-sama terindera dalam kehidupan sehari-hari. Realitas tersebut tidak hanya sekedar berita sepanjang hari di telivisi, koran, ataupun media elektronik dan cetak lainya. Hal tersebut betul betul fakta riil yang terlihat oleh mata telanjang dan akrab dialami setiap hari oleh masyarakat. Bahkan ironisnya kedua hal tersebut tidak hanya marak membudaya di kota besar Jakarta namun juga di kota-kota lain seiring dengan adanya otonomi daerah.

          Dari laju kencangnya gaya hidup bermewahan dan perilaku korup selama ini, secara kualitatif bisa dianalisa adanya korelasi atau hubungan yang positif. Dimana titik temu gaya hidup dan perilaku korup akan terus meningkat seiring meningkatnya kedua hal tersebut. Semakin tinggi korupsi maka gaya hidup juga semakin tinggi. Demikian halnya, semakin tinggi gaya hidup maka perilaku korup semakin tinggi. Walaupun statemen tersebut bukan sebuah hasil survey namun realitas sosial dengan system kapitalis liberal saat ini cenderung mengatakan demikian.

          Walaupun berkorelasi positif namun terdapat persoalan menarik adalah duluan mana tuntutan gaya hidup dengan perilaku korup. Kiranya hal tersebut cukup sulit dijawab, ibarat sebuah teka teki yang sampai hari ini belum terjawab adalah duluan mana munculnya ayam dan telur. Jika ayam yang muncul dulu, siapa yang mengerami telurnya? Jika telurnya dulu yang muncul, lalu apa atau siapa yang mengeraminya? Berpusing memikirkan hubungan dua kasus tersebut kiranya bukan sebuah solusi yang berguna, sementara korban budaya tersebut  terus berkembang.

Analisa dan Solusi

         Jika dianalisa maka gaya hidup bermewahan dan perilaku korup merupakan budaya bobrok, penyakit masyarakat dan harus diberantas. Sebab disamping bertentangan dengan agama juga faktanya merugikan masyarakat dan negara. Dalam sebuah analisis perilaku, bahwa sebuah perilaku buruk akan berkecenderungan menyebabkan perilaku buruk lainya. Sangat jarang jika perilaku buruk akan mengakibatkan perilaku kebaikan. Banyak kalangan mengatakan bahwa satu perbuatan dosa jika tidak dihentikan maka akan mengalirkan perbuatan dosa lainya. Sebaliknya, sebuah perilaku kebaikan jika diteruskan maka akan melahirkan kebaikan-kebaikan lainya.

         Aplikasinya adalah jika seseorang telah memiliki kekayaan hasil korupsi (uang haram) maka kecenderungan besar akan digunakan untuk bergaya hidup mewah yang merupakan bagian dari perilaku haram lainya. Sangat jarang uang haram itu untuk modal kebaikan. Demikian halnya, jika seseorang sudah berjiwa kotor dengan berani korupsi maka hawa nafsunya juga selalu kepada kehidupan yang kotor, foya-foya, mubadzir, dan gaya hidup yang penuh dengan kesombongan dan keangkuhan. Jika sudah mengidap “penyakit jiwa” yang demikian akut, maka mereka semakin dahaga mengejar dunia sehingga perilaku korupsipun juga semakin menggurita.

           Jika dianalisa, perilaku bergaya hidup over acting dan korupsi sejatinya merupakan dampak dari sistem sosial dan kenegaraan yang buruk. Sistem global yang diadopsi oleh bangsa ini merupakan biang kerok suburnya budaya korupsi dan gaya hidup hedonism. Bisa dilihat, betapa korupsi telah menggurita dari titik sentrum istana negara, pejabat eksekuitif, legeslatif dan yudikatif, dari hulu hingga hilir. Sebuah sistem yang bobrok dan terbukti dilakukan oleh para elit negeri ini kiranya sebuah sebab tunggal suburnya budaya buruk tersebut di atas.

           Untuk mendapatkan solusi tentu harus dicermati aspek penyebabnya. Banyak kalangan ahli politik mengatakan bahwa hasil diagnosis akhir penyakit negeri ini adalah sistemnya bobrok dan harus diganti. Dengan rekomendasi tersebut maka seharusnya sistem tersebut segera dicarikan alternatif lain yang tidak sekedar tambal sulam. Sistem alternatif lain itu, tidak ada lagi kecuali  syariah Islam  yang berasal dari Pencipta alam, manusia dan kehidupan. Dengan diterapkanya secara menyeluruh (kaffah) maka akan tercipta sistem sosial yang sehat dari rahim sistem yang sehat pula. Akhirnya, gaya hidup hedonism dan perilaku korup dapat diberantas. Wallahu A'lam.