Hubungi Kami

Menjawab Problematika Remaja, Antara Cinta, Cita dan Harapan Orang Tua

Dalam psikologi perkembangan (Developmental Psychology), terdapat fase tugas yang disebut "remaja". Usia tersebut banyak kalangan menyebutnya dengan fase kritis, gila, mengambang, membingungkan, sulit adaptasi, dsb. Bahkan terdapat syair berbahasa Arab yang menyebut "Asy-syababu syu'batun minal junuuni, wan nisaa-u habalatun min habalatisy-syayaatin--masa pemuda itu merupakan masa dari jin, gila, sedangkan masa pemudi merupakan jaring-jaring dari syaithan". Dengan adanya banyak penyebutan dan dalam realitasnya memang cenderung demikian, maka "remaja" menjadi "obyek dan komoditas" yang luar biasa dalam perbincangan di tengah masyarakat. Semuanya terlihat penasaran ingin mengetahui siapakah remaja itu hingga bagaimana mencegah dan mengatasi dari segala perilaku menyimpangnya; serta juga bagaimana mengembangkan remaja tersebut untuk menjadi generasi emas (golden generation) kelak di kemudian hari.

          Pandangan tersebut pada umumnya terdapat pihak yang membenarkan walaupun terdapat juga pihak yang tidak sependapat (pro-kontra). Pihak yang pro mendasarkan banyak realitas data dan fakta bahwa remaja memang cenderung berbuat nakal, jahat, destruktif bahkan kriminal. Pelaku narkoba, seks bebas, tawuran, mabuk-mabukan, kebut-kebutan, aborsi, bunuh diri, dan sejuta kasus lainya banyak data didominasi oleh usia remaja. Namun demikian bagi pihak yang tidak sependapat mengatakan remaja dengan perilaku menyimpangnya (deviant behaviour) bukan kesalahan mereka namun sistem sosial dan kenegaraan yang membentuknya. Pendapat terakhir ini juga bisa dipertimbangkan, sebab dengan negara membiarkan pornografi baik melalui media maya (internet), ataupun media elektronik dan cetak telah menyebabkan kehancuran remaja yang nyata.

          Kiranya sangat penting mengakomodir pendapat pro dan kontra terhadap perilaku kenakan remaja. Di satu sisi usia remaja dipandang dari sisi fisik adalah terjadi pertumbuhan baru biokimiawi berupa kelenjar hipofesa baik itu gonadotropi ataupun kortikotropi yang kemudian tumbuh spermatozom ataupun ovum. Disamping itu, secara sosial, bahwa dengan usia baru remaja tersebut adanya status baru, peran, penilaian dan tuntutan baru dari lingkungan. Sementara itu, dari sisi Islam, bahwa dengan remaja maka terdapat lompatan status dari belum mukallaf menjadi seorang mukkallaf yakni manusia yang sudah terbebani dengan seruan hukum dan tercatat sebuah amal pahala atau dosa. Nah pergerakan dari pra-baligh menjadi baligh atau remaja inilah yang mesti harus terjawabkan. Itulah kiranya, perlu adanya jawaban bagaimana menghadapi dan mengelola masa remaja sehingga problematika kehidupanya termasuk aspek cinta dan cita akan berjalan seiring dengan tuntutan harapan orang tua.

Sasaran

          Persoalan remaja dapat difahami secara komprehensif sehingga ada kepastian bagaimana remaja, orang tua dan pihak lain mengelolanya menjadi generasi emas kelak pada masanya menjadi pemimpin di tengah kaum yang bertaqwa.

Peserta

Remaja, Orang Tua, Guru, Trainer, Praktisi Pendidikan, Profesional, Umum.