Hubungi Kami

Mengelola Multiple Intelligence, Mengoptimalkan Prestasi Pendidikan

Kebangkitan suatu bangsa disebabkan oleh kebangkitan taraf berfikir bangsa tersebut. Walhasil, kemajuan sebuah bangsa akan terwujud jika pemikiran intelektual terbangkitkan. Kebangkitan kaum muslimin pada zaman Rasul Muhammad Saw, Sahabat/Khulafaur Rasyidin, dan era emas Kekhilafahan Islam berikutnya merupakan bentuk dari kebangkitan berfikir. Bangkit dari berfikir jahiliyah (kebodohan) menuju nuur (cahaya Islam) sehingga Islam berkembang pesat dari titik Makkah dan Madinah menuju dua pertiga dunia.

          Agar suatu negara memiliki sumber daya insani yang bangkit maka harus dioptimalkan sistem pendidikan yang mendukung terwujudnya kaum yang berilmu pengetahuan sebagai prerequisite atau persyaratan kebangkitan. Untuk mencapai hal tersebut dewasa ini telah muncul kembali istilah "Multiple Intelligence". Sebuah sintesis bahwa setiap orang memiliki potensi dan kompetensi yang beraneka ragam yang jika dikembangkan maka akan menghasilkan manusia yang bersumber daya majemuk. Mereka akan menguasai banyak disiplin ilmu sehingga dapat mempercepat eksploarasi pembangunan nasional yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

          Kami sangat meyakini adanya konsepsi multiple intelligence tersebut dan sangat memungkinkan untuk dibuktikan kembali pada sejarah baru peradaban dunia. Hal ini terbuktikan dengan realitas era keemasan Islam ketika itu. Setidaknya dengan membaca tulisan di website ini (www.psikologi-islam.com) pada rubrik analisis yang berujul Psikologi Islam Gelombang Besar Ideologi Dunia telah kami nukilkan dari referensi bahwa banyaknya ulama dan sekaligus cendikiawan muslim yang menguasai banyak disiplin ilmu pengetahuan. Misalnya kita ambil sosok Ibnu Sina atau bangsa barat menyebut Avicenna (908-1037), disamping ulama besar dalam bidang tsaqafah Islam, juga seorang ilmuwan dalam bidang Filsafat, Psikologi, Kedokteran, Astronomi, dan matematika.

          Kini, di saat kaum muslimin sudah tidak hidup pada era sistem Islam, alias zaman liberal maka kompetensi generasi Islam menjadi terkerdilkan dan terkooptasi dengan adanya pemisahan antara ulama ahli agama (rijaluddin) dan ahli ilmu umum. Para ulama atau kyai kini cenderung menyepi mengajarkan ilmu ke Islaman di pesantren. Sementara ilmuwan Umum muslim masih banyak yang sekuler, tidak bisa membaca Al Quran, tidak bisa bahasa Arab, bahkan ada seorang Profesor di Bandung tidak bisa melakukan sholat mayat saat keluarganya meninggal dunia. Sungguh ironis!

          Itulah kiranya, diperlukan sebuah forum kajian untuk sharing bagaimanakah sebenarnya Islam dahulu pernah sukses membuktikan SDM yang memiliki Multiple Intelligence. Dari sistem pendidikan Islam yang berbasis Multi Intelligence kiranya bisa diadaptasi, diadopsi dan didevelop untuk diimplementasikan dalam sistem pendidikan dewasa ini. Tidak perlu mengambil konsepsi dari dunia barat, Islam sudah terlebih dulu membuktikan lima empat belas abad lalu. Bagaimanakah sebenarnya persoalan ini bisa digali, maka diperlukan sebuah diskusi yang intensif.

Sasaran

          Tercerahkanya sebuah konsepsi Islam dan bukti peradaban Islam bahwa memang benar Multiple Intelligence dapat dikembangkan sehingga dapat terimplementasikan kembali untuk memunculkan kembali ulama yang bertsaqafah tinggi tentang ke Islaman dan sekaligus mumpuni dalam berbagai disiplin ilmu lain menuju kebangkitan dunia Islam.

Peserta

Praktisi Pendidikan, Orang Tua, Guru atau Asatidz, Profesional, Umum.