Hubungi Kami

Mempersiapkan Anak Pra-Baligh menuju Baligh

Dalam psikologi perkembangan Islam terdapat tugas perkembangan yang disebut anak pra-baligh dan baligh. Konsepsi ini tidak ditemukan dalam kajian dunia barat sebab disana tidak ada ajaran tersebut. Disana kebanyakan hanya ajaran kapitalis, liberal, dan duit. Ternyata persoalan dan handling masa transisi dari pra-baligh menuju baligh ini sangat penting bagi  kehidupan kaum muslimin dalam mempersiapkan generasi Islam yang sholeh nan taqwa.

          Namun demikian, acapkali kesadaran bagi orang tua dan lingkungan terhadap upaya menyongsong mempersiapkan anak dari pra-baligh menuju baligh masih cenderung kurang. Mereka para anak cenderung dibiarkan tidak dididik, tidak diberi pengarahan, tata cara (kaifiyah) bagaimana berbuat sesuatu pada saat detik-detik baligh. Celakanya lagi masih banyak orang tua yang mentertawakan pada saat mendengarkan perubahan suara anak yang semula kecil berubah menjadi besar (baskan). Padahal, sungguh persoalan ini tidak bisa diremehkan!!! Sebab, ketika anak sudah masuk dalam usia baligh berarti mereka sudah terkena taklif (beban) hukum. Mereka, seluruh amal perbuatanya baik dan buruk kini sudah mulai dicatat dan kelak akan dihisab di hari kiamat.

          Itulah kiranya, teramat penting bagi orang tua dan lingkunganya bagaimana anak difahamkan dan dididik serta diberikan tatacara hidup dalam dunia baru dalam arti sebuah usia baligh. Dengan cara begitu maka mereka tidak lagi merasa aneh terhadap dirinya, dan tidak merasa kesulitan terhadap apa yang dihadapinya serta sekaligus dapat langsung menjalankan akidah dan syariah seperti layaknya seorang muslim lainya. Sementara itu, adalah dosa bagi orang tua jika membiarkan anaknya yang sudah memasuki baligh sehingga anak-anak tidak mengerti apa yang seharusnya dilakukan.

          Bukankah ketika anak sudah memasuki usia baligh sudah diwajibkan sholat lima waktu, menutup aurat, shaum ramadlan satu bulan, dst. Dalam konteks ini bukan perkara yang mudah bagi orang tua untuk merevolusi anak terikat dengan hukum syariah. Mereka ketika belum baligh tidak mengapa jika tidak melakukan sholat dan secara hukum belum dicacat sebagai bentuk dosa. Namun begitu ketika datang bulan (menstruasi) untuk pertama kali bagi anak perempuan, atau seorang anak lelaki bermimpi hingga keluar spermatozoom, maka setiap amal dilakukan, jarum argo sudah mulai berjalan merekam kebaikan ataupun atau keburukan. 

Sasaran

          Memahami fikih psikologi anak pra-baligh menuju baligh dan sekaligus memahami apa yang harus dilakukan oleh anak sehingga segera mencapai kesempurnaan akidah, syariah dan plus amal ibadahnya.

Peserta

Orang Tua, Guru atau Asatidz, Praktisi Pendidikan, Umum.