Hubungi Kami

Kebhinekaan Beragama dalam Perspektif Islam

Seiring dengan perjalanan umur dunia yang semakin tua, jumlah agama dan aliran kepercayaan semakin terpecah berkeping menjadi sangat banyak. Jika agama telah terpecah menjadi banyak sekte, maka aliran-aliran kepercayaan di dunia saat ini dapat diperkirakan berjumlah ribuan atau puluhan ribu. Di Indonesia saja kini memiliki enam agama resmi (Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, Konghucu) dan 245 aliran kepercayaan yang terdaftar di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2003 (Wikipedia). Diperkirakan Indonesia dengan banyak suku dan 700 bahasa maka aliran kepercayaan yang tidak terdaftar masih banyak lagi.

          Sudah dapat dipastikan, setiap agama memiliki Tuhan masing-masing beserta ajaran dan tata cara beribadahnya, kecuali pecahanya yang masih memiliki akar yang sama. Sejak dari keyakinan satu Tuhan (monotheisme), tiga tuhan (trinitas) hingga banyak tuhan (politheisme). Oleh karena itu, dengan realitas perbedaan diametral antar agama dan aliran kepercayaan maka sangat potensial untuk terjadi sentiment, konflik hingga peperangan. Dalam pandangan psikologi sosial, bahwa potensial konflik terjadi dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan.

          Dalam kenyataanya, kerukunan umat beragama khususnya di Indonesia hingga saat ini masih menjadi mimpi buruk. Sejak dari riak-riak kecil, cukup besar hingga gelombang besar terus terjadi di Indonesia. Lebih hebat lagi jika peluang konflik agama tersebut dimanfaatkan oleh kalangan tertentu maka sungguh terjadi kebakaran sosial yang luar biasa. Kejadian perang Muslim-Kristen di Ambon beberapa tahun lalu menjadi bukti bahwa potensi konflik telah meledak. Demikian halnya, kasus gereja Yasmin di Bogor (dengan kasus pemalsuan surat untuk IMB) menjadi bukti konflik kerukunan beragama.

 Akar Persoalan

          Sebagaimana disinggung di atas bahwa perbedaan diametral keyakinan antar ummat agama menjadi potensi sumber konflik. Persoalan ini merupakan fenamena turun temurun dan berabad abad sejak munculnya banyak agama dan kepercayaan. Disamping itu, setiap agama memiliki bangunan keyakinan (aqidah)yang khas, radikal dan fundamental sehingga memiliki tingkat sensitivitas  sangat tinggi.  Jika terjadi ketersinggungan ataupun gesekan sedikit saja akan dapat memercikkan bunga api hingga kebakaran yang teramat hebat.

          Disamping itu, setiap agama dan kepercayaan memiliki naluri untuk senantiasa  menyebarluaskan kepada orang lain hingga tidak berbatas waktu dan tempat. Ketika mereka saling mendakwahkan maka disanalah terjadi tarik menarik, pembentukan opini, sikap, prasangka sehingga muncul benih konflik antar ummat beragama.  Bahkan tidak jarang ketika penyebaran agamanya tertetu dilakukan dengan cara penipuan, manipulasi, provokasi, rivalry, hingga agitatif dan destruktif. Kekuatan dana, loby, politik, taktik dan strategi senantiasa menjadi ruh dakwahnya sehingga sangat sensitive  terjadi intoleransi.

          Hal ini diperparah lagi dengan tidak adanya sistem yang menjamin adanya manajemen konflik antar agama dan kepercayaan yang dapat berbuat adil.  Contoh paling terkini adalah berlarutnya konflik gereja Yasmin di Kota Bogor hingga bertahun-tahun. Hal ini disebabkan sistem demokrasi dengan perangkat hukumnya senantiasa bertabrakan dan penuh konflik kepentingan. Di satu sisi, walikota Bogor yang betul-betul faham isi dapur rumah tangganya sendiri telah membuat keputusan signifikan. Namun peradilan pusat dan tokoh-tokoh dari tetangga jauh telah membuat keputusan dan opini keliru. Akhirnya, kerukunan ummat beragama menjadi terus terganggu.

 Perspektif Islam

          Dalam realitasnya, Islam merupakan sebuah sistem kehidupan yang berupa agama dan sekaligus negara (religion and state).  Dengan demikian Islam telah memiliki konsepsi bagaimana mengatur kehidupan manusia secara totalitas dengan penuh keadilan. Konsepsi ini tidak ada di luar jalan hidup Islam. Agama-agama lain hanya mengajarkan kerohanian dan tidak mengatur urusan ketatanegaraan. Hal ini, jika disimak dalam Al Qur’an dan Al Hadits maka disana sangat tegas bagaimana sistem ketatanegaraan, ekonomi, politik, sosial, budaya, hankam, politik luar negeri (polugri) dan manajemen toleransi antar agama, dsb.

          Tentu saja, keadilan terhadap kebhinekaan agama akan tercapai jika sistem Islam tersebut diterapkan dalam bingkai syariah dan khilafah. Selama ini, dengan sistem yang berkuasa bukan Islam sehingga menyebabkan seluruh agama menjadi sakit bahkan selalu dalam ancaman adu domba oleh pihak tertentu. Beberapa bukti bahwa Islam akan membawa pada keadilan beragama antara lain sebagai berikut. Firman Allah Swt dalam surat Al Anbiyak ayat 107 bahwa “dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.

          Sedangkan dalam surat An Nisak ayat 105 bahwa: “Sesungguhnya kami telah menurunkan Kitab ini (Al Quran) kepadamu dengan membawa kebenaran supaya engkau menghukumi manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu”. Dalam surat lain, Al Baqarah ayat 256 bahwa: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada yang salah”.

          Dari beberapa ayat tersebut dengan tegas bahwa Islam akan menjadi rahmat untuk seluruh dunia; tentu saja dengan diimplementasikan sistem hukum ketatanegaraan Islam; dan Islam menjamin tidak akan pernah memaksa orang lain untuk masuk Islam.  

          Ketika Islam menjadi pemimpin negara baik saat kepala negaranya Rasulullah Saw hingga penggantinya para Khalifah, kerahmatan dunia untuk mengelola kehidupan kebhinekaan beragama telah terbukti. Ayat-ayat tersebut telah terbukti bagaimana pemeluk agama selain Islam yakni Yahudi, Nasrani, Majusi, Shabiin dan sebagainya dapat hidup tenang dibawah naungan Islam. Bahkan Yahudi Madinah saat itu yang terdiri dari Bani Quraidzah, Bani  Qainuqa, Bani Nadzir, dan Bani Khaibar semuanya terlindungi oleh Negara Islam.

          Demikian halnya, ketika itu Rasulullah Saw sendiri yang memimpin sebuah perjanjian perdamaian “perjanjian khudaibiyah” antara kaum muslimin dengan non muslim di Madinah. Diantara pihak non muslim yang menandatangani adalah disamping empat Bani Yahudi di atas juga ada Bani ‘Auf, Bani Hajjar, Bani Harits, Bani Saadah, Bani Jasim, Bani ‘Aus, dan Bani Tsa’labah. Hebatnya lagi, ketika Islam menjadi pemimpin atas agama lain yang terjadi adalah perdamaian sebagaimana dirasakan di Spanyol. Disana selama 800 tahun, bangsa Spanyol hidup rukun, damai dan sejahtera walaupun terdapat julukan Spain in Three Relegion, yakni Islam, yahudi dan Nasrani.

          Berdasarkan penjelasan singkat di atas, sungguh penerapan sistem Islam akan menjamin sebuah kedamaian terhadap agama dan kepercayaan lainya. Selama orang-orang non muslim masih memegang teguh sebagai bagian dari negara maka mereka 100% dilindungi. Bahkan Nabi Muhammad Saw pernah bersabda bahwa “Siapa saja yang membunuh orang kafir mu’ahid (yang terikat perjanjian dengan Negara Islam) yang dijamin oleh Allah dan Rasul-Nya tidak akan mencium bau surga, padahal bau surga itu dapat tercium dari jarak perjalanan tujuh puluh tahun” (HR Ibnu Majah).

          Jadi persepsi sistem Islam terhadap kebhinekaan beragama telah jelas, yakni menempatkan posisi yang sama dengan warga negara Islam terhadap masalah jaminan keamanan dan keadilan sosial. Disamping banyak ayat dan hadits mengajarkan demikian, dalam realitasnya telah terbukti ketika Islam memimpin dunia ketika itu. Kini sistem yang menguasai dunia telah terbukti gagal mengelola perbedaan agama sehingga hanya menciptakan konflik yang tidak pernah berakhir.  Wallahu A’lam Bimuradihi.