Hubungi Kami

Indikator Lembaga Pendidikan yang Baik

Berita tentang pendidikan di Indonesia hingga hari ini (2011) masih sangat memprihatinkan. Berbagai perilaku penyimpangan, kenakalan dan kriminal masih menghiasi dunia pendidikan kita. Lebih tragis lagi realitas itu tidak hanya dilakukan oleh siswa level SMP, SMU dan sederajadnya, akan tetapi juga melanda dunia mahasiswa—yang selangkah lagi akan menjadi pemimpin bangsa. Dari data-data yang ada, terlihat semakin mencengangkan, mulai dari tawuran, pecandu narkotika, perampokan sampai pergaulan bebas dan aborsi.

          Dalam konteks pembahasan ini kita ambil studi kasus di Jawa Barat. Hasil survei dasar Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) yang dilakukan BKKBN Jabar terhadap 288 responden usia sekolah SMP dan SMA di enam kabupaten di Jabar pada bulan Mei 2002 diperoleh data sekitar 39,65% remaja Jabar pernah melakukan seks pranikah (perzinahan). Ternyata semakin ke atas jenjang sekolah, moralitas mereka semakin rusak. Bahkan terdapat bukti tambahan dari survei sebuah LSM menyatakan 44,8 % mahasiswa dan remaja Bandung telah melakukan hubungan perzinahan. Bahkan hampir sebagian besar di wilayah kost-kost-an mahasiswa yang kuliah di PTN dan PTS tersebar di Bandung (Fenomena sex in the kost, Lembaga Swadaya Masyarakat/LSM Sahabat Anak dan Remaja Indonesia (Sahara Indonesia), Juni 2003.

          Dampak dari pergaulan bebas, semakin  meningkatnya kehamilan tak diinginkan (KTD). Tentu saja hal ini semakin membengkaknya kasus aborsi.  Di Jawa Barat ada 400 ribu kasus aborsi. Pengamat program  Keluarga Berencana, Saut Munthe memperkirakan angka aborsi di Jabar mencapai 400 ribu kasus pertahun. Sebanyak 200 ribu kasus diantaranya dilakukan remaja. Ini hanya fenomena gunung es karena kasus sebenarnya lebih banyak lagi (Harian Seputar Indonesia, 9 april 2009) .

          Sementara data dari Badan Narkotika Propinsi (BNP) Jabar menunjukkan, sedikitnya 600 ribu warga Jabar sudah terkontaminasi barang haram tersebut. Bahkan, dalam peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) tingkat propinsi Jabar awal bulan lalu, propinsi berpenduduk 40 juta jiwa ini masuk sebagai produsen Narkoba, khususnya ganja ( Republika, 11 Agustus 2007). Adapun remaja korban narkoba, 1,1 juta orang di Indonesia. Dan lebih dari 50% ada di Jabar, yaitu 600 ribu orang (Pikiran Rakyat, 17 Juni 2009).

          Sedangkan tawuran juga semakin meningkat, dari antar pelajar SMU dengan membawa senjata tajam, sampai mahasiswa. Bahkan akhir-akhir ini, ditambah kasus perusakan kampus oleh mahasiswa. Untuk kasus tawuran antar pelajar tercatat 230 kasus  yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota Polri, Terlihat dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan korban cenderung meningkat. (www.cafepojok.com)

          Yang menarik dari data-data tersebut di atas terdapat sumber tahunya yang dinilai sudah kedaluwarsa. Namun jika dikaitkan dengan data-data lainya justru terdapat kenaikan kualitas yang signifikan. Dapat dibayangkan jika hal tersebut sudah terjadi pada tahun 2002, sementara saat ini tahun 2011, kiranya kasus kerusakan mentalitas usia tersebut semakin parah. Terlebih lagi seiring dengan kenyataan bahwa hingga hari ini sistem sosial Indonesia tidal lebih baik dari yang diharapkan sebelumnya.

          Bagaimanapun, tidak bisa dipungkiri bahwa sikap, tingkah laku, kualitas intelektual dan emosi masyarakat merupakan cerminan dari sebuah sistem negara. Sebab yang membesarkan anak bangsa adalah negara (induknya) itu sendiri. Jika sistem ketatanegaraan baik maka baiklah bangsanya, jika sistem ketatanegaraan itu buruk maka rusaklah bangsa itu. Nah, dalam konteks ini lembaga pendidikan sebagai lembaga operasional yang mendidik anak bangsa harus bertanggung jawab terhadap realitas dan upaya mendidik anak bangsa yang baik sehingga kelak menjadi pemimpin yang sholeh, taqwa dan profesional. Itulah kiranya, jika selama ini para pemimpin senantiasa dirundung kasus korupsi, kolusi, kejahatan dan tindakan amoral lain merupakan produk dari lembaga pendidikan dan sistem yang ada.

Indikator Lembaga Pendidikan yang Baik

          Jika memperhatikan kenakalan dan kerusakan yang ditimbulkan pelajar dan mahasiswa, tentu kita akan bertanya-tanya. Sebenarnya apakah pokok akar masalahnya? Jika kita meneliti akar penyebab semua itu, kita akan menemukan jawabannya. Bahwa pokok pangkal permasalahannya adalah, lembaga pendidikan selama ini belum menghasilkan out put yang berkepribadian Islam atau out put yang memiliki pola tingkah laku yang sesuai dengan aturan Islam dan bersumber dari akidah Islam. Dari sinilah kita bisa menentukan indikator sekolah yang baik.

          Agar sekolah itu menjadi baik, maka harus mampu menghasilkan lulusan yang baik. Lulusan yang baik adalah lulusan yang melakukan apa yang diridloi Allah Swt, yaitu melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-nya. Karena definisi baik adalah: apa yang diridloi Alloh Swt. Dengan kata lain lulusan yang bertingkah laku diridloi Allah Swt, tentu saja tingkah laku yang yang sesuai dengan aturan Islam, dan didasari keimanan yang kuat. Keimanan yang meliputi rukun iman yang enam. Karenanya tujuan pendidikan di sekolah harus diarahkan mencapai Kepribadian Islam (Pola tingkah laku yang sesuai dengan  Islam).

          Mengapa Islam harus sebagai standar kebaikan lembaga pendidikan? Hal ini disebabkan hanya Islam yang bisa dipakai Standart Kebaikan yang Hakiki. Islam merupakan sistem kehidupan  yang bersumber dari  Dzat yang Maha Benar&  Maha Baik. Berbeda dengan Barat hanya bersumber pada pemikiran makhluk manusia yang teramat lemah. Misalnya, jika di dunia Barat kehidupan berdasarkan Liberalisme, sehingga pergaulan bebas, perzinahan dan aborsi bukan persoalan penting, karena memang sistem sosialnya sesuai selera hawa nafsu masing-masing. Sementara Islam memiliki ajaran yang sangat fundamental, dimana seorang muslim harus terikat dengan hukum-hukum Islam (taqayyud bi ahkamisy-syar'ie). Dan, Islam pula sebuah sistem ideologis yang menjamin kesesuaian dengan fitrah manusia, memuaskan setiap pertanyaan akal, dan menjawab rasa haus dan dahaga setiap aspek kegelisahan emosi.

Tujuan Lembaga Pendidikan yang Baik

          Tujuan sekolah yang baik adalah membentuk out put yang berkepribadian Islam. Atau out put yang memiliki pola tingkah laku yang sesuai aturan Islam, dan bersumber dari akidah Islam. Pertama yang harus dilakukan adalah membentuk pola pikir Islam (’aqliyah Islamiyah) dan pola sikap yang Islam (nafsiyah Islamiyah). Sehingga terbentuk generasi berkepribadian yang Islam  (Taqiyuddin an Nabhani, Syakhsyiyah Islamiyah Juz I) yaitu suatu generasi yang bertingkah laku  berdasarkan pada akidah Islam.

          Upaya membentuk generasi bersyakhshiyah Islamiyah berarti membentuk Generasi yang hanya menyembah dan mengabdikan dirinya kepada Allah Swt; mengembalikan segala permasalahan hanya kepada Allah Swt. Artinya menyelesaikan seluruh problematika kehidupannya diselesaikan dengan sistem hukum Islam; dan senantiasa tingkah lakunya mengikuti petunjuk-Nya. Generasi bersyakhshiyah Islamiyah (berkepribadian Islam) adalah Generasi yang menjadikan hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah Swt.. Firman Allah Swt yang artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”(TQS. Adz Dzariat[51:56) 

RincianTujuan Lembaga Pendidikan yang Baik

          Tujuan lembaga pendidikan yang baik secara garis besar mencakup  3 hal  sebagai berikut. Pertama, menghasilkan orang-orang yang bertaqwa, yaitu melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Misalnya: tidak mengkonsumsi narkotika, tidak tawuran, tidak bergaul bebas. Dan kontrol yang kuat terhadap pelaksanaan hal tersebut adalah senantiasa dikuatkan imannya, dan dikontrol sholatnya.

          Kedua, menguasai Tsaqofah Islam (Ilmu-ilmu Islam), dari sistem pendidikan Islam ini, diharapkan mampu menghasilkan orang-orang yang taat kepada perintah dan larangan Allah didasarkan pada ilmu. Untuk tingkat perguruan tinggi diharapkan menghasilkan para mujtahid dan ulama. Ketiga, menguasai ilmu untuk mengarungi kehidupan yaitu sains, tehnologi, keahlian dan   ketrampilan yang memadai. Untuk tingkat SLTA diharapkan mampu berwirausaha dan mandiri. Hal ini tentu saja harus ditunjang oleh kebijakan negara yang mandiri, misalnya dengan kebijakan pemerintah menciptakan ketahanan pangan. Karenanya pemerintah tidak mengimport bahan makanan, baik makanan pokok maupun buah-buahan.

          Tentu saja hal ini akan menciptakan lapangan kerja yang sangat luas. Baik di bidang pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan industri makanan/minuman.   Sedangkan untuk perguruan tinggi dari sistem pendidikan ini diharapkan mampu menghasilkan para pakar, teknokrat, saintist dan para penemu. (Abu Yasin, Strategi Pendidikan Daulah Khilafah).

”Sebagai pengelola pendidikan, tentu Anda ingin menjadikan lembaga pendidikan Anda mampu mengantarkan peserta didik menjadi orang-orang yang sukses, mampu mengenggam dunia yang sudah demikian canggih dan modern, di sisi lain mereka tetap berkepribadian Islam. Jangan khawatir, Lembaga Bantuan Psikologi Islam Indonesia siap menjadi mitra Anda”.