Hubungi Kami

Cegah Pornografi, Hanya Bertahan dengan Benteng Terakhir Keluarga

Virus akut penyakit suspect porno hingga kini semakin merajalela di tengah masyarakat. Baik penyebar virus ataupun juga korban pengidap virus kini semakin tumbuh tidak terkenadali. Hal ini ditandai dengan semakin boomingnya penyebar virus porno antara lain dalam bentuk pornografi, pornoaksi, dan tingkah laku kepornoan lainya baik melalui internet, film layar lebar dan layar kaca, media cetak, dan action langsung di lapangan. Bahkan harian umum Republika dengan gemasnya menyatakan sebuah darurat pornografi (25/4/11).

       Sementara itu, korban yang terinfeksi virus porno setiap detik senantiasa berakumulasi baik secara kualitatif ataupun kuantitatif. Sejak dari awal kemaksiatan, perselingkuhan, konflik kecemburuan, perceraian, perzinahan, pemerkosaan, kehamilan di luar nikah, aborsi, bunuh diri dan pembunuhan karena asmara.Walaupun virus dan korban terinfeksi semakin mengganas, namun penguasa yang seharusnya sebagai perisai dan pelindung rakyat hingga kini nyaris tidak berfungsi. Kini penguasa lebih cenderung berdiam, kurang banyak bereaksi dari banyaknya aksi. Dalam arti mereka sudah melihat realitas korban virus porno namun negara bahkan tidak bergeming.

       Demikian halnya, terhadap UU nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi yang diperjuangkan dengan penuh air mata, hingga kini tidak diimplementasikan dengan baik. Padahal UU pornografi tersebut pada dasarnya tidak substantif, hanya kulit ari, setelah draft antipornografi yang diajukan masyarakat dimoderasi habis oleh legeslatif. Padahal masih teringat draft tersebut telah dikawal oleh hampir dua juta masyarakat di depan gedung DPR. Demikian pula, Majelis Ulama Indonesia (MUI) wewenangnya hanya sebatas menetapkan fatwa haramnya pornografi sebagai seruan moral. Sementara itu, Komisi Perlindungan Anak (KPA) walaupun telah mengantongi sejuta data korban pornografi, tetap tidak bisa berbuat  banyak. Hal ini terbukti para pejabat lembaga tersebut sering muncul di media masa namun kenyataanya kasus virus porno justru semakin akut di masyarakat.

       Marilah kita lihat sebuah contoh miris dalam minggu ini, adanya pemberitaan massif artis papan atas yakni Krisdayanti (KD) dan Mulan Jameela (MD) yang telah hamil dari hasil perzinahan. Dari berita tersebut tidak satupun pihak yang akan memperkarakan sebagai bagian dari tindak seks bebas (perzinahan) yang melebihi dari sekedar berpose porno. Bahkan pemberitaan tersebut sebagai bagian dari upaya promosi gratis bagi para artis dalam pengembangan jejaring bisnis. Jika demikian, jelas memberikan pendidikan pada masyarakat bahwa perilaku porno dan seks bebas di negeri ini sudah legal dan liberal seperti negara barat.

Keluarga Benteng Terakhir

       Dalam pandangan ahli pendidikan, tanggung jawab pendidikan untuk menciptakan generasi yang baik ada tiga institusi, yakni negara, masyarakat dan keluarga. Namun apa boleh buat, dua institusi yakni negara dan masyarakat kini nyaris tidak berfungsi, maka tinggalah keluarga sebagai benteng pertahanan terakhir.Walaupun hal ini terasa sangat berat, tetapi itulah realitas yang harus ditanggung oleh keluarga. Sebab tarik menarik antara sistem nilai dalam internal keluarga dengan kerusakan eksternal demikian tidak berimbang. Gaya grafitasi lingkungan jauh lebih dahsyat dari keluarga, hingga akhirnya banyak juga anggota keluarga yang hancur.

       Di satu sisi, orang tua harus mendampingi, mendidik, dan mengendalikan pemikiran dan tingkah laku anak. Namun di sisi lain, kaum feminis dengan ajarangender equality mewajibkan kaum perempuan bersaing sengit dengan kaum lelaki. Dengan fakta seperti ini maka keberadaan orang tua untuk mengawal membentengi anggota keluarga dari korban virus porno tidaklah optimal. Terlebih lagi, virus porno demikian kuat masuk dalam jantung lingkungan rumah tangga melalui TV, internet, HP, dan sebagainya. Dapat dibayangkan betapa sulitnya benteng keluarga itu berfungsi dengan baik. Sebab justru dalam benteng pertahanan keluarga itu, keberadaan virus porno sudah stand by dalam rumah.

       Namun demikian, di tengah benteng yang sudah penuh virus itu, keluarga masih wajib berusaha seoptimal mungkin demi generasi yang terselamatkan menuju generasi sehat, prestatif dan  bertaqwa. Dalam hal ini orang tua dituntut keseriusanya untuk menciptakan berbagai gaya pendekatan bagaimana benteng tersebut bersih dari infiltrasi dan infeksi virus ganas porno.

       Tentu saja, bangunan benteng itu pertama-tama harus dimulai kesadaran yang komprehensif bagi kedua orang tua terhadap pencegahan dan penangggulangan darurat suspek virus porno yang mengancam keluarga. Kedua, memahamkan kepada anak dan anggota keluarga dengan penuh argumentasi, ketauladanan dan mendiskusikan dengan argumentasi yang baik. Hal ini sebagaimana firman Allah Swt dalam surat An Nahl ayat  125 : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”.

       Ketiga, senantiasa membangun kedekatan keluarga baik secara pemikiran ataupun emosional. Akhirnya, sekuat apapun serangan virus infeksi porno itu mengancam generasi, keluarga tetap diwajibkan untuk mempertahankan hingga titik nyawa penghabisan.