Hubungi Kami

Bimbang, Keluarga Gadis yang Dicinta Mengidap Gangguan Jiwa

Terdapat seseorang yang merasa sangat bimbang ketika hendak memutuskan sebuah pernikahan. Sebut saja seorang pemuda berinisial MS, usia 30 tahun dan berpendidikan diploma. MS menuturkan bahwa pada saat dirinya berkenalan dengan seorang gadis rekan sekantor di kota J yang pada akhirnya sampai pada level jatuh cinta. Diakuinya, bahwa seorang gadis tersebut pribadinya sangat baik, seakan tidak ada celah kekurangan pada dirinya sedikitpun sehingga tidak ada alasan untuk tidak jatuh cinta. Demikian kata MS yang sedang kasmaran.

          Namun, ketika MS datang ke rumah gadis tersebut dengan niat untuk berkenalan dengan orang tuanya untuk sebuah rencana khithbah (lamaran), ternyata betapa kagetnya melihat pemandangan seorang lelaki mengalami stress gangguan jiwa. Ketika MS menanyakan pada wanita idamanya maka dijawab ia adalah kakak kandungnya yang mengalami stress gangguan jiwa setelah gagal kedua kali tes masuk perguruan tinggi negeri di fakultas teknik.

          Sepulang dari kunjungan tersebut MS kini mengalami problem kebingungan yang luar biasa. Intinya adalah sebuah konflik batin bahwa jika pernikahan dilanjutkan maka khawatir nanti akan memiliki anak keturunan gila seperti om nya. Atau khawatir jika kelak isterinya juga mengidap gila pada usia tertentu. Konflik juga terjadi bahwa jika rencana pernikahan digagalkan maka begitu sangat takut kehilangan seorang gadis yang amat dicintainya. Serba salah, terus maju salah, mau mundurpun juga merasa salah.

          Kasus tersebut kemungkinan juga terjadi pada orang lain. Bahkan dapat berkembang menjadi sebuah pertanyaan bahwa apakah sakit jiwa merupakan keturunan atau bukan (aspek problem pribadi dan lngkungan). Sebab sakit jiwa merupakan keadaan yang banyak ditakuti orang serta membawa beban bagi pihak keluarga dan lingkunganya. Dengan kasus tersebut bagaimanakah sebaiknya, rencana menikah dilanjutkan atau diputuskan. Berdasarkan kasus tersebut maka tulisan ini akan mencoba mengulas “agak panjang” untuk membantu sebuah solusi.

Solusi

Kriteria Calon Isteri

                Sebagai agama yang sempurna, Islam telah menetapkan kriteria calon suami atau isteri yang layak. Terdapat sejumlah hadits yang menjelaskan perihal tersebut. Antara lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim yang artinya: “Perempuan itu dinikahi karena empat hal, karena cantiknya atau karena keturunanya, atau karena hartanya atau karena agamanya. Tetapi pilihlah yang beragama, agar selamatlah dirimu”. Jadi, jika berdasarkan hadits tersebut ada empat kriteria pertimbangan untuk memilih isteri yakni kecantikanya, nasab atau keturunanya, hartanya, dan agamanya.

                Ternyata dari empat item persyaratan tersebut, aspek agama menjadi pilar paling utama di atas tiga lainya. Hal ini berarti dapat dipastikan jika agamanya baik maka kehidupan keluarga nantinya akan menjadi baik, demikian sebaliknya. Tentu saja, kriteria calon isteri yang baik juga berlaku untuk kriteria calon suami yang baik. Dalam konteks hadits tersebut tentu saja hanya persoalan sebutan saja yang maksudnya juga berlaku untuk lelaki yakni mengedepankan agamanya daripada ketampananya, hartanya, dan keturunanya.

Fenomena Gangguan Jiwa

                Dalam kajian psikologi klinis terdapat bermacam-macam gangguan jiwa sejak dari kualitas sederhana hingga akut dan betul-betul gila total. Dalam pandangan Kretchmer, seorang psikolog  dari Jerman memandang bahwa orang-orang yang berakal sehatpun sebenarnya banyak yang mengalami gangguan jiwa. Misalnya, mudah curiga dengan orang lain (paranoid), hobi mencuri barang-barang (kleptomania),  memuaskan seksual dengan anak-anak (pedofilia), rentan khawatir dan cemas (anxiety), jika berbicara merasa orang yang hebat (megalomania), takut tempat tinggi, takut ruang gelap, dsb.

                Gangguan jiwa dimana yang bersangkutan masih dalam kategori normal, sering disebut dengan gangguan neorotik atau neurotis. Sementara gangguan jiwa yang juga sering disebut  sakit jiwa disebut skizofrenik atau skizoprenia dimana penderita sudah hidup dalam dunianya sendiri dan tidak mampu kontak dengan lingkungan. Apa yang dilakukan sudah out of control sehingga tidak malu jika telanjang menari sepanjang jalan.

                Fenomena gangguan jiwa dalam realitasnya berpeluang melanda banyak orang. Baik yang segaris keturunan ataupun tidak ada unsur keturunan karena lingkungan. Bahkan ketika krisis ekonomi tahun 1998 yang lalu dikabarkan penghuni Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bandung telah mengalami kenaikan drastic 30%. Asal tahu saja bahwa jumlah penambahan angka tersebut adalah dari kalangan pengusaha yang mengalami pailit dalam usahanya.

                Sementara itu dalam pandangan Islam, yang disebut dengan gangguan jiwa adalah jika sudah dalam kategori tidak dapat kontak dengan lingkungan. Dalam hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ali bin Abu Thalib bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda: “Telah diangkat pena (beban hukum) dari tiga golongan: dari orang gila hingga sembuh, dari orang yang tidur hingga ia bangun, dari anak-anak hingga baligh”.

                Dari hadits tersebut denganya Islam tegas mendefinisikan bahwa istilah gila atau sakit jiwa jika yang bersangkutan tidak mampu kontak dengan lingkungan.  Jika dalam pengertian barat seperti halnya sebuah hobby mencuri barang (kleptomania) dimana yang bersangkutan adalah nomal (seperti kasus anggota DPR) jelas bukan sebuah gangguan jiwa. Dalam Islam, sebuah perbuatan yang dilakukan dengan sadar maka akan mendapatkan konsekuensi pahala (jika amal sholeh) dan dosa (jika amal buruk).

Faktor Penyebab

                Dari kasus tersebut di atas secara umum  gangguan jiwa disebabkan oleh dua hal, yakni aspek keturunan (genonip, herediter) dan lingkungan (fenotip, environment). Aspek genotip bependapat bahwa sakit jiwa merupakan konsekuensi dari keturunan darah baik keluarga yang sedarah dekat (orang tua langsung) ataupun agak jauh (kakek atau nenek) dan mungkin lebih jauh ke atas lagi. Konsepsi pemikiran tersebut juga dapat mempertimbangkan teori dari George Mendell tentang aspek keturunan (herediter).

                Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Zerbin Rudin (1972) tentang kecenderungan keturunan sakit jiwa Skizoprenia yang disebabkan garis keturunan. Anak dari kedua orang tua yang sakit (40-68%); anak (8-16%); saudara kandung  (8-14%); orang tua (5-10%); saudara tiri (1-8%); saudara sepupu (2-6%); kemenakan (2-6%); kakek dan nenek (1-2%); paman dan bibi (%). Dari data ini dapat terbaca bahwa seorang anak berpeluang mengalami sakit jiwa jika orang tuanya langsung yang mengidap sakit jiwa. Selanjutnya, jika hubungan semakin jauh maka semakin kecil atau bahkan tidak ada peluang terkena keturunan sakit jiwa.

                Sebagai catatan tambahan bahwa terhadap anak kembar satu telur maka kecenderungan terkena keturunan sakit jiwa akan semakin besar. Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rosenthal, 1970. Sedangkan hasil penelitian dari Gottesman dan Shields, 1972 bahwa kecenderungan sakit jiwa akan lebih besar dan permanen jika penderita yang dirawat selama dua tahun di Rumah Sakit Jiwa tidak segera sembuh.

                Selanjutnya, aspek lingkungan dengan segala dinamikanya memiliki peran sangat dominan dalam memunculkan dan berkembangnya gangguan jiwa. Seperti halnya konflik pribadi, kandasnya rencana studi, gagalnya asmara, pailitnya sebuah bisnis, gagalnya karir, dsb. sangat memudahkan orang mengidap gangguan jiwa. Terlebih lagi dalam dunia modern saat ini yang serba kapitalistik dan liberal memudahkan munculnya stress dan depresi sosial hingga berlanjut pada gangguan jiwa. Hanya saja dalam pengalaman bahwa gangguan jiwa jenis keturunan pada umumnya akan muncul dalam usia tertentu dan cenderung sulit disembuhkan. Namun gangguan jiwa disebabkan konflik diri dan lingkungan pada umumnya sangat banyak penderitanya dan bisa disembuhkan.

Usulan Solusi

                Pertama-tama perlu mensikapi realitas dan hasil penelitian tentang gangguan jiwa apakah keturunan atau lingkungan. Bahwa sebuah hasil penelitian tersebut di atas, terlebih dalam ilmu perilaku dan genotip (keturunan), dalam konteks ini tetap berpeluang terjadi atau tidak terjadi (nihil). Data statistik tersebut (tahun 1970-an) di atas hanya merupakan hasil yang bukan segalanya sehingga nilai peramalan kejadian di masa depanpun juga tetap tidak matematis—tidak mesti wajib terjadi. Dalam konteks ini, walaupun terdapat salah satu orang tua yang mengalami gangguan jiwa, namun tetap tidak ada kepastian seluruh atau sebagian anaknya juga terkena sakit jiwa. Terkadang juga ada anak yang menderita namun terkadang juga ada yang tidak tertular.

                Demikian halnya, banyak terjadi dimana kedua orang tua tidak ada yang menderita sakit jiwa namun anaknya mengalami sakit jiwa. Atau juga bisa terjadi dimana kedua orang tuanya tidak sakit jiwa namun jalur kakek atau nenek terdahulu sakit jiwa sehingga cucu dan cucunya bisa terkena atau tidak terkena. Itulah realitas teori manusia yang bisa cenderung benar dan salah. Bahkan pada aspek lain, banyak juga terjadi dimana garis keturunan adalah sehat, namun disebabkan terjadi resesip gen maka terlahirlah anak yang cacat. dst. Semua itu hanya Allah Swt yang Maha Mengetahui tentang masa depan yang terjadi pada hambanya.

                Setelah panjang lebar diuraikan di atas maka untuk saudara MS disarankan menelaah realitas tersebut dengan menggunakan kekuatan pemikiran dan aqidah secara mantab. Secara pemikiran kiranya cukup memahami uraian di atas sehingga dimungkinkan fifty-fifty antara melanjutkan dan memutuskan memberhentikan. Selanjutnya untuk menguji sejauhmana peluang gangguan jiwa itu akan terjadi maka carilah data tentang garis keturunan gangguan jiwa pada keluarganya. Jika memang tidak ada yang terjadi gangguan jiwa kecuali hanya kakaknya gadis tersebut maka peluang untuk dilanjutkan bisa diyakinkan hingga 95%.  Jika demikian, kami yakinkan lagi bahwa jika stressor (pencetus stress) kakak gadis tersebut adalah kandasnya keinginan kuliah di perguruan (aspek lingkungan pribadi) yang diinginkan maka bisa diyakinkan Insya Allah keluarga gadis tersebut genotipnya adalah sehat. Dengan demikian proses keinginan untuk meminang dan menikah bisa dilanjutkan.

                Terlebih lagi jika kembali pada aspek aqidah (hadits di atas) dimana ternyata keluarga gadis tersebut dalam kategori agamanya sehat dan bagus bahkan keluarga yang sholeh maka semakin memperkuat untuk proses menuju pernikahan dilanjutkan. Itupun jika MS sudah betul-betul yakin dan mantab. Jika ternyata tetap ragu, buanglah keraguan itu, karena sesungguhnya Rasul menyampaikan tinggalkanlah yang meragukanmu menuju sesuatu yang tidak meragukan. Namun jika ternyata masih ragu maka tinggalkanlah semua itu dengan penuh akhlak yang mulia.

                 Pada akhirnya, jika memang sudah jodohnya tiba maka betapapun sejumlah keluarga mengalami gangguan jiwa, maka tidak ada seorangpun yang bisa menghalanginya. Tidak akan lari gunung dikejar. Asam di gunung, garam di laut akan tetap bertemu dalam satu tempurung. Wallahu A’lam bishowab. (Baiturokhim, Psikolog dan Konsultan SDM).