Hubungi Kami

Adakah Dikotomi Ilmu dalam Islam ?

Bismillahirrahmanirrahim. Jika siapapun dengan jernih membaca Islam, dengan ribuan ayat Al Qur’an dan ratusan ribu Al Hadits serta ratusan juta bahkan milayaran buku-buku keIslaman, disana Anda akan menemukan bahwa Islam merupakan ajaran yang Maha Sempurna. Siapapun, terlebih lagi ”kaum intelektual” dengan berbagai latar belakangnya akan memahami bahwa Islam merupakan ajaran sistem totalitas, way of life secara sempurna.

            Secara fair ”sumber mata air Islam” itu dapat Anda baca baik ”secara terang-terangan, malu-malu ataupun bersembunyi” telah nyata mengajarkan seluruh sistem kehidupan baik untuk kemaslahatan di dunia ataupun jalan kebahagiaan di negeri akherat. Silakan menguji, dipastikan akan menemukan jawaban atas seluruh pertanyaan yang mengganjal dan berkecamuk dalam pikiran Anda.

            Jika Anda akan bertanya tentang prinsip dasar ilmu psikologi, sosiologi, sejarah, antroplogi—ragawi dan budaya, politik, manajemen—strategis dan quality management sistem (QMS) serta manajemen mutu lingkungan dst, fisika—murni dan terapan, kimia, geologi, matematika, IPA, kedokteran—termasuk obstetri dan ginekologi, ekonomi—kebijakan makro hingga mikro, pertahanan dan keamanan, hubungan internasional, sistem ketatanegaraan, aerodinamika, pertanian, dsb.....dsb. Islam akan menjawabnya.

            Islam telah menfasilitasi bahkan menantang manusia untuk memuaskan rasio dan emosi yang telah Allah Swt ciptakan secara sempurna. Semakin Anda meminumnya maka dipastikan Anda semakin dahaga. Bukankah jika Anda membaca akan ditemukan bahwa ayat pertama kali turun yang menandai pelatikan seorang Rasul Muhammad Saw menuju kehidupan dunia rahmatan lil ’alamin adalah surat 96 Al ’Alaq. Pada ayat pertama berbunyi : Iqra’ bismi rabbika al ladzi khalaq (bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan). Luar biasa!!!   

            Mengapa demikian, sebab konsepsi Islam adalah holistic system—sistem kesatuan integral dan komprehensif yang diturunkan oleh Allah Swt Dzat yang Maha Sempurna dan Maha Tahu tentang penciptaanya.  Dengan demikian, di dalam Islam tidak terdapat konsep dikotomi antara  Ilmu Pengetahuan agama dengan Ilmu pengetahuan Umum. Bahkan kedua-duanya wajib dikuasai oleh kaum muslimin. Firman Allah Swt:

”Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (TQS. Al Qashash [28]; 77)

                 Dengan demikian, terlalu kecil dan remeh apabila Anda mengikuti madzhab bahwa ilmu harus dibagi dan dipisahkan menjadi dua yakni Ilmu Islam dan Ilmu Umum yang berdampak pada sekularisasi ilmu dan kehidupan. Jika demikian berdampak serius bagi kehidupan kaum muslimin. Sehingga sangat disayangkan jika banyak kaum muslimin menjadi ilmuwan dan guru besar dalam bidang tertentu namun sangat miskin dengan wawasan ke Islaman. Dalam hal ini terdapat kasus yang menggelitik bahwa seorang muslim guru besar di kota Bandung tidak bisa mensholati mayat saat saudara kandung meninggal dunia. Luar biasa!!!

Menguasai Ilmu-ilmu Islam

            Menguasai  ilmu-ilmu Islam (antara lain Ushul Fiqih, Fiqih, Ulumul Qur’an, Ulumul Hadits, bahasa Arab dsb) merupakan keniscayaan  seorang Muslim. Karena Allah Swt mewajibkan kaum Muslimin mengembalikan segala permasalahan hanya kepada Allah Swt (kepada Islam). Artinya kaum muslimin wajib  menyelesaikan seluruh problematika kehidupannya diselesaikan dengan sistem hukum Islam.

Setiap muslim wajib terikat dengan hukum syara’. Sebagaimana Kaidah ushul fiqh:

 ????? ?? ????? ??????? ???? ?????? ???????

’Asal/ pokok dari perbuatan manusia terikat dengan hukum syara’.

Artinya, setiap perbuatan harus disandarkan kepada sistem hukum Allah Swt, bahkan ibadah tidak akan diterima sebagai suatu amal shaleh pada saat tidak sesuai dengan tuntunan syara’ (al-Qur’an-Hadits). Karenanya mengharuskan seorang muslim menguasai ilmu ilmu Islam (Tsaqofah Islam).Firman Allah Swt:

 Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”.(TQS. Al Fathir[35]; 28)

 Menguasai Ilmu Kehidupan (Ilmu Pengetahuan Umum)

            Menguasai ilmu pengetahuan dan tehnologi  untuk mengarungi kehidupan diperlukan agar umat Islam dapat meraih kemajuan material, sehingga dapat menjalankan  kehidupan di dunia ini dengan baik . Dorongan Islam untuk menguasai ilmu pengetahuan dan tehnologi sangat kuat karena umat Islam didorong menjadi umat yang terbaik (Khairu Ummah).

            Dengan dorongan keimanan dan ajaran Islam tersebut umat Islam mampu mengembangkan akalnya  untuk menguasai ilmu kehidupan (ilmu pengetahuan dan tehnologi). Misalnya adanya hukum waris mendorong kaum muslimin menjadi pakar matematika; Kewajiban shalat menghadap kiblat dan melaksanakan shalat pada waktunya. Hal ini mendorong kaum muslimin untuk mengetahui arah dan waktu shalat, pada gilirannya mendorong mereka menemukan ilmu kompas dan jam.

            Pada masa Rasululllah Saw, beliau senantiasa mendorong para sahabat untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Rasulullah pernah mengutus dua orang sahabatnya ke negeri Yaman guna mempelajari teknik pembuatan senjata yang mutakhir yang ketika itu disebut dababah, sejenis tank yang terdiri dari kayu tebal berlapis kulit dan tersusun dari roda-roda, serta senjata manjanik, sejenis meriam di era sekarang. Rasulullah memahami betul kegunaan senjata itu untuk menerjang benteng musuh saat berperang.

            Rasulullah SAW pernah memerintahkan Asy-Syifa binti Abdullah agar mengajarkan kepada Hafshoh Ummul Mukminin menulis dan tehnik pengobatan. Rasulullah juga menganjurkan kaum muslimah agar mempelajari ilmu tenun dan merawat orang sakit (pengobatan).

            Islam merupakan agama sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk aspek peradaban dan kemajuan masyararat Islam. Kemajuan peradaban merupakan produk dari sains dan teknologi.  Islam sangat mendorong kemajuan sains dan teknologi. Bahkan merupakan kewajiban bagi kaum muslimin untuk mempelajari dan mengembangkannya. Al Qur’an menganjurkan mempelajari ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu terapan serta memanfaatkan segala sesuatu yang ada di alam ini (M. Abdul Adhim Zarqani, Manahilil Urfan fi ulumil Qur’an,juz I). Firman Alloh Swt:

 ” Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan”(TQS. Hud[11];37).

Dalil diatas menunjukkan bahwa kaum muslimin hendaknya memanfaatkan bumi yang telah disediakan Allah Swt untuk manusia. Tentu saja memanfaatkan bumi mengharuskan manusia menguasai ilmu yang mengantarkan pada kemampuan manusia memanfaatkannya. Oleh karena itu mengharuskan kaum muslimin mempelajari ilmu-ilmu terapan, ilmu-ilmu alan alam  atau sains dan teknologi. Imam Ghozali  dan para ulama’ juga menegaskan bahwa mempelajari sains dan teknologi hukumnya fardu kifayah (Al Ghozali, Ihya’ Ulumuddin Juz I).

Mensikapi Perkembangan Sains dan Teknologi Barat

            Pada masa dunia Islam mengalami kemunduran, perkembangan sains dan teknologi juga mengalami stagnasi, akan tetapi justru Barat yang mengalami kemajuan pesat. Dengan melihat perkembangan sains dan teknologi di Barat yang semakin canggih, maka kaum muslim mengimport besar-besar-an tanpa seleksi dan koreksi. Apakah bertentangan dengan akidah Islam atau tidak. Karenanya muncul gagasan Integrasi ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum (Abuddin Nata, Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umu).

            Untuk mensikapi perkembangan sains dan teknologi  Barat yang sangat pesat, dalam buku Nidzam Islam, Syekh Taqiyuddin an Nabhani mengemukakan gagasannya dengan istilah hadlarah dan madaniyah sebagai berikut: Hadlarah adalah sekumpulan mafahim(pemikiran/ide yang dianut dan mempunyai fakta tentang kehidupan) Sedangkan madaniyah adalah bentuk-bentuk fisik dari benda-benda yang terindera yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan.

            Selanjutnya Syekh Taqiyuddin membagi hadlarah Islam dan ghairu Islam. Hadlarah Islam yaitu pemikiran /ide yang bersumber dari akidah Islam, Sedangkan  Hadlarah ghairu Islam yaitu pemikiran/ide yang bersumber dari akidah selain Islam. Hadlarah ghairu Islam  tidak boleh diambil oleh kaum muslimin misalnya: penentuan kebenaran dengan suara terbanyak yang bersumber dari demokrasi-liberalisme. Ataupun juga mengambil prinsip-prinsip keilmuan dari barat yang kontra dengan aqidah dan syariah Islam. Hal ini tidak boleh diambil karena bertentangan dengan Islam.

            Adapun penentuan kebenaran didalam Islam bisa dengan metode sebagai berikut: Pada saat membahas tentang hukum syara’ yang, maka kebenaran diambil dari Al Qur’an dan Hadits. Adapun jika membahas tentang keahlian, maka kebenaran diambil dari pakar tentang hal itu, misalnya pembangunan jalan tol yang kuat itu kontruksinya bagaimana, maka diserahkan kepada insinyur teknik sipil. Selanjutnya untuk hal-hal yang mengarah kepada teknis pelaknaan yang hukumnya mubah, bisa diambil dari suara terbanyak (Taqiyuddin an Nabhani, Syakhsyiyah Islamiyah Juz I).

            Sedangkan madaniyah dibagi menjadi dua macam, yaitu: madaniyah khash adalah benda yang ada kaitannya dengan akidah tertentu, jika berkaitan dengan akidah selain Islam maka kaum muslimin dilarang mengadopsinya misalnya membuat rumah dengan model bangunan seperti gereja. Dan yang kedua madaniyah ’am (umum) adalah benda yang tidak ada kaitannya dengan akidah, maka kaum muslimin boleh memakainya. Misalnya komputer sekalipun yang memproduksi orang kafir.

            Dengan uraian di atas maka menjadi jelalah bahwa dalam Islam tidak dikenal dengan dikotomi ilmu yang menjadikanya dua buah garis lurus yang tidak pernah ada titik temu. Namun Islam memandang seluruh ilmu tidak bisa didikotomikan namun dalam ranah satu kesatuan (holistik). Dengan demikian, ilmu yang holistik tersebut jika diterapkan oleh manusia maka akan membuat seorang muslim yang sholeh. Namun jika difahami dan diterapkan secara terpisah maka akan menjadi seorang muslim sekuler.

           Akhirnya, Untuk menjadikan seseorang berkepribadian Islam, dan Lembaga Pendidikan maju, tentu membutuhkan Islamisasi ilmu, perilaku, serta Islamisasi Sekolah, dan kampus.  Lembaga Bantuan Psikologi Islam Indonesia siap menjadi mitra Anda.